"Kamu harus berlatih dengan semangat Leena, aku juga akan membantumu." Kata Lala yang duduk di dekat Mochi.

"Terimakasih Lala, aku senang karena kalian bersedia mengajariku." Kata Leena dengan gembira.

"Kamu berhati-hatilah! Kakek sangat galak dan tegas dalam berlatih. Kamu tidak akan bisa membayangkan apa yang sudah aku alami saat awal berlatih." Kata Lala sambil menjulurkan lidahnya ke kakeknya.

Leena sudah terbiasa melihat sikap Lala ke kakeknya. Dibalik sikap Lala yang selalu bersikap dewasa, Leena dapat merasakan betapa sayangnya Lala ke kakeknya, dan dia juga selalu bersikap manja saat bersama kakeknya.

"Mari Leena, kita mulai latihannya. Jangan hiraukan Lala, dia susah diatur saat kecil," kata Mochi sambil tertawa ringan.

Mochi lalu merapikan posisi duduknya, bersila dengan punggung tegak. Ia memberi isyarat kepada Leena untuk duduk di hadapannya. “Setiap manusia memiliki tenaga dalam, yaitu kekuatan tersembunyi yang tertidur didalam tubuh kita dan jika tidak di latih atau diaktifkan, selamanya kekuatan itu akan tertidur. Tenaga dalam berasal dari energi yang ada di tubuh kita dan terletak di bagian tubuhmu tepat di bawah pusarmu.”

“Dibawah pusar?” tanya Leena, menundukkan kepalanya melihat kearah pusarnya.

Mochi mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ya, tepat di bawah pusarmu. Tempat itu dikenal sebagai dantian, pusat energi di tubuhmu. Dantian adalah tempat energi kehidupan atau chi disimpan. Semua latihan tenaga dalam dimulai dengan mengenali dan membangkitkan energi dari sana."

Leena memiringkan kepalanya, mencoba memahami. "Bagaimana aku bisa merasakan energi itu? Apa yang harus kulakukan?"

Mochi mengangkat tangannya, telapak tangannya menghadap ke atas, lalu berkata, "Langkah pertama adalah menenangkan pikiranmu. Pernapasanmu akan menjadi kunci untuk membuka akses ke dantianmu. Ikuti aku." Mochi menarik napas dalam-dalam melalui hidung, mengisi paru-parunya dengan udara, lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. "Tarik napas seperti ini, dalam dan perlahan. Rasakan udara mengalir masuk dan keluar, seolah-olah kau sedang mengarahkan perhatianmu ke perutmu."

Leena meniru gerakan Mochi, menarik napas panjang. Namun, napasnya terdengar tidak stabil, dan dia mengerutkan dahi. "Aku merasa seperti hanya menghirup udara biasa. Tidak ada yang istimewa."

Mochi tertawa kecil. "Itu karena pikiranmu masih terlalu sibuk. Bayangkan sebuah danau yang tenang. Ketika airnya bergelombang, kau tidak bisa melihat dasar danau itu. Tapi jika airnya tenang, semuanya menjadi jelas. Pikiranmu seperti danau itu. Kau harus menenangkannya terlebih dahulu."

Leena menarik napas lagi, kali ini lebih lambat. Dia memejamkan matanya, mencoba membayangkan danau yang tenang seperti yang dijelaskan Mochi. Beberapa saat berlalu, napasnya mulai lebih teratur.

"Bagus," kata Mochi dengan nada lembut. "Untuk dapat merasakan Chi, kamu tidak bisa terburu-buru. Untuk saat ini, berlatihlah untuk menenangkan diri terlebih dahulu."

Beberapa waktu kemudian, Mochi kembali mengarahkan, "sekarang, arahkan perhatianmu ke area dibawah pusarmu. Rasakan kehangatan yang samar-samar di sana. Itu adalah tempat dimana energi tertidur. Jangan terburu-buru. Biarkan dirimu merasakan keberadaannya. Biasanya perlu waktu beberapa hari, berminggu-minggu, tidak sama setiap orang."

Lala yang duduk di samping, menatap wajah Leena. "Aku perlu waktu lebih dari seminggu untuk dapat merasakannya. Itupun juga berkat kakek yang melatihku dengan tekun dan keras. Aku harus benar-benar menenangkan pikiranku untuk dapat merasakannya." Batinnya.

Leena memusatkan perhatiannya. Awalnya, tidak ada yang berbeda. Namun, perlahan, dia merasakan sesuatu—sebuah kehangatan halus, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalam dirinya. Matanya terbuka sedikit, terkejut. "Aku… aku merasakannya. Sesuatu yang hangat, kecil, seperti percikan api."

Mochi mengangkat alis, terkejut. “Benarkah? Itu sangat cepat. Biasanya, butuh waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk merasakan energi chi.”

Lala, yang duduk tidak jauh, ikut mendekat. “Apa benar, Leena? Kau sudah bisa merasakannya?”

Leena mengangguk antusias. “Ya, aku merasakannya! Rasanya seperti ada sesuatu yang hangat di sini.”

Mochi menghela napas panjang. “Ini luar biasa. Sepertinya kau memiliki bakat alami untuk ini.”

Lynx, yang kebetulan melihat Leena terlihat serius mendatangi Mochi, secara diam-diam, dia memfokuskan pendengarannya untuk dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dan  memperhatikan dari kejauhan.

Ketika mendengat kata-kata Mochi dan Lala, dia teringat sesuatu yang pernah diceritakan oleh Rasyid, kepala suku Auksa. "Bukankah kepala suku Rasyid pernah mengatakan bahwa tujuan Monrest menangkap para penduduk untuk di korbankan demi membangkitkan leluhur mereka. Dan untuk prosesnya, mereka memerlukan darah orang-orang dengan ciri khusus, yaitu yang memiliki akar spiritual. Jika aku memilikinya, berarti Leena, Sherly dan Chiko juga memilikinya. Apakah ini sebabnya Leena dapat dengan cepat menguasai ilmu yang diajarkan kakek Mochi?” Lynx bergumam pada dirinya sendiri. “Leena mungkin memiliki akar spiritual yang kuat.”

Lynx mendekat, menyela latihan mereka. “Kakek Mochi, maaf jika aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Mungkin ada sesuatu yang harus kau ketahui.”

Mochi menatap Lynx dengan penasaran. “Apa itu?”

“Tetua Rasyid pernah bilang, Monrest untuk mencapai tujuannya, memanggil orang-orang dari dimensi lain dengan akar spiritual untuk ritual mereka. Bisa jadi Leena yang di panggil oleh mereka memiliki akar spiritual itu. Itu menjelaskan kenapa dia bisa merasakan energi chi secepat ini,” kata Lynx sambil melirik Leena.

Mochi mengangguk perlahan, lalu menatap Leena dengan ekspresi serius. “Kalau begitu, kita harus melatihnya dengan hati-hati. Kemampuan ini bisa menjadi kekuatan besar, tapi juga bisa menjadi bahaya jika tidak dikelola dengan benar.”

Leena memandang mereka berdua, merasa sedikit gugup. “Apa maksudnya?”

Mochi tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Leena. Fokus saja pada latihanmu. Aku akan memastikan kau mempelajari semuanya dengan benar.”

Leena mengangguk, tetapi di dalam hatinya, dia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Latihannya baru dimulai, tetapi pengaruhnya mungkin akan melampaui apa yang pernah dia bayangkan.

"Aku juga tidak mau kalah Leena, aku juga harus lebih giat berlatih agar tidak dikalahkan olehmu." Kata Lala sambil tertawa.

"Lala, kamu terlalu lama meneliti keberadaan ayahmu sehingga tubuhmu menjadi kaku. Kamu memang harus berlatih lagi dengan giat, karena musuh kita kali ini memerlukan kekuatan untuk mengalahkannya, tentu saja tetap harus menggunakan otak juga." Kata Mochi mengingatkan.

"AKu juga akan menemani kalian berlatih." Kata Lynx sambil merangkul Leena.

Lala yang melihatnya hanya bisa menghela napas, "bisakah kalian tidak merusak mataku dengan kemesraan kalian?"

Leena tersipu malu dan mencubit pinggang Lynx agar menjaga jarak darinya, namun Lynx hanya tersenyum sambil meringis.

Dalam beberapa hari, Leena semakin mahir mengontrol energi di tubuhnya. Dia juga dilatih oleh Mochi untuk menggunakan tenaga dalam dalam pertarungan. Selain itu, Leena berlatih bertarung melawan Lala. Awalnya, Leena kesulitan menghadapi Lala yang sudah ahli bela diri, tetapi dengan latihan yang intens, dia mulai mampu bertahan lebih lama.

“Aku tidak menyangka kau belajar secepat ini,” kata Lala suatu hari setelah sesi latihan mereka.

Leena tersenyum tipis sambil mengusap peluhnya. “Aku tidak mau terus menjadi beban. Ini caraku membalas semua yang Lynx lakukan untuk melindungi kita.”

Lala menggoda Leena lagi. "Tentu saja Lynx harus melindungimu. Bukankah kamu sudah melayaninya setiap malam."

"Lala, bisakah kamu tidak menggodaku dengan hal itu? Apakah kamu tidak malu membahasnya terus menerus dan didengar orang lain." Kata Leena dengan wajah cemberut.

"Maafkan aku Leena, Ditempatku, hal masalah seks bukan hal yang tabu lagi untuk di bicarakan, apalagi aku sudah cukup dewasa, jadi wajar untuk memahami hal itu. Yah, meski aku belum pernah melakukannya." Kata Lala sambil tertawa menutupi rasa malunya.

Leena yang mendengar kata-katanya menjadi ikut tertawa."Lala, kamu perlu segera mendapatkan pasangan."

Lynx yang memperhatikan dari kejauhan tersenyum bangga. Ia tahu bahwa Leena sedang mempersiapkan dirinya untuk pertempuran besar yang akan datang. Namun dalam hatinya, Lynx juga merasa khawatir. Apakah kemampuan Leena yang luar biasa ini akan menarik perhatian Monrest? Namun saat mendengar percakapan mereka lebih lanjut, Lynx berusaha menahan tawanya."Apakah ini pembicaraan para gadis jika bersama?" batinnya.


